Thursday, November 19, 2009

100 – 10 = 7090, BENAR ? YA, PASTI !

Suatu hari seorang Ayah memberikan soal matematika kepada anaknya yang masih duduk di Sekolah Dasar tentang operasi Pengurangan, Ayo nak coba soal ini dijawab ya :
1) 100 – 10 = ?
2) 100 – 20 = ?
3) 100 – 50 = ?
Gampang sekali yah soalnya, yang no.1 = 90, no.2 = 80 dan no.3 = 50, jawab sang anak
Betul sekali sayang jawabanmu, itulah ilmu Matematika pada umumnya yang kita pelajari selama ini, sekarang Ayah akan mengajarimu bagaimana Matematika Tuhan, coba sekarang lihat soal dan jawaban yang ada dibawah ini :
1) 100 – 10 = 7090
2) 100 – 20 = 14080
3) 100 – 50 = 35050
Bagaimana menurut kamu sayang ? betul atau salah ?, menurut saya ya aneh yah, jawab sang anak. Itulah matematika Tuhan sayangku, jawaban itu PASTI Benar tidak mungkin salah dan itu boleh kita uji kebenarannya melalui teori dan praktek SEDEKAH, maksudnya apa ayah?
Ayahandanya berkata "bersedakahlah kamu selagi mampu dan bisa, dan cobalah untuk terus meningkatkan kadar dan kualitasnya". Hari ini didalam dompet ayah ada beberapa lembar uang 500, 1000an, 5.000an dan 10.000an. "Mana yang akan kamu berikan untuk sedekah, nak ?" sang anak menjawab, "500 ayah!" karena biasanya semua orang yang ia tahu akan memberikan yg terkecil untuk disedekahkan. Ayahanda beliau pun tersenyum. "kenapa 500?" kembali sang ayah bertanya. "Kenapa bukan 10.000 ?"

Pertanyaan itu membuat anaknya tertegun dan mengernyitkan dahinya.

Sang ayah pun melanjutkan "Lebih berat mana, ngasih 500 perak atau 10.000 ?". Ia terdiam dan menjawab "lebih berat 10.000 ayah".

Kembali sang Ayah tersenyum dan berkata :
"Anakku, Semakin besar uang yang Allah titipkan kepada kita, maka semakin berat juga amanah yang ada dibelakangnya. Kita merasa berat memberi karena belum ada keikhlasan yang sempurna. Belajarlah untuk ikhlas, semakin besar semakin baik. Semakin besar jumlah yang bisa kita keluarkan, maka beban kita di dunia akan semakin ringan, dan bagian yang kita keluarkan itu akan menjelma menjadi nilai yang tak terhingga yang akan membantu kita di akherat kelak".

Ternyata kalimat tersebut adalah pesan terakhir sang ayah kepada anaknya, beliau dipanggil menghadap kepada Allah diusianya yang ke 47 th.

Sahabat, benarkah matematika Tuhan yang diajarkan sang Ayah kepada anaknya tersebut ?, mari coba kita baca kembali kisah yang pernah kami kirimkan pada bulan Ramadhan yang lalu :

Ibu Ela adalah wanita yang pekerjaannya mengumpullkan sampah plastik dari kemasan. Cuma untuk memperolehnya, dia harus memungutnya di sungai. wanita paruh baya, kurus, rambutnya diikat ke belakang, banyak warna putihnya itu berumur 54 tahun, inilah petikan wawancara tim Uang Kaget RCTI dengan Bu Ela

“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam. Ada apa ya Pak?” tanya Ibu Ela..
“Saya dari tabloid An Nuur, mendapat cerita dari seseorang untuk menemui Ibu. Kami mau wawancara sebentar, boleh Bu…?” saya menjelaskan, dan mengunakan ‘Tabloid An Nuur’ sebagai ‘penyamaran’.
“Oh.. boleh, silahkan masuk.”

Ibu Ela, masuk lewat pintu belakang. Saya menunggu di depan. Tak beberapa lama, lampu listrik di ruang tengahnya nyala, dan pintu depan pun dibuka.
“Silahkan masuk…”
Saya masuk ke dalam ‘ruang tamu’ yang diisi oleh dua kursi kayu yang sudah reot. Tempat dudukannya busa yang sudah bolong di bagian pinggir. Rupanya Ibu Ela hanya menyalakan lampu listrik jika ada tamu saja. Kalau rumahnya ditinggalkan, listrik biasa dimatikan. Berhemat katanya.

“Sebentar ya Pak, saya ambil air minum dulu” kata Ibu Ela.
Yang dimaksud Ibu Ela dengan ambil air minum adalah menyalakan tungku dengan kayu bakar dan diatasnya ada sebuah panic yang diisi air. Ibu Ela harus memasak air dulu untuk menyediakan air minum bagi tamunya.

“Iya Bu.. ngga usah repot-repot.” Kata saya ngga enak.

Kami pun mulai ngobrol, atau ‘wawancara’.
Ibu Ela ini usianya 54 tahun, pekerjaan utamanya mengumpulkan plastic dan menjualnya seharga Rp 7.000 per kilo. Ketika saya Tanya aktivitasnya selain mencari plastik,
“Mengaji…” katanya
“Hari apa aja Bu…?” Tanya saya

“Hari senin, selasa, rabu, kamis, sabtu…” jawabnya. Hari Jum’at dan Minggu adalah hari untuk menemani Ibu yang dirawat di rumahnya.


Oh.. jadi mengaji rupanya yang jadi aktivitas paling banyak. Ternyata dalam pengajian itu, biasanya ibu-ibu pengajian yang pasti mendapat minuman kemasan, secara sukarela dan otomatis akan mengumpulkan gelas kemasan air mineral dalam plastik dan menjadi oleh-oleh untuk Ibu Ela.

Hmm, sambil menyelam minum air rupanya. Sambil mengaji dapat plastik.

Saya tanya lagi,
“Paling jauh pengajiannya dimana Bu?”
“Di dekat terminal Bubulak, ada mesjid taklim tiap Sabtu. Saya selalu hadir; ustadznya bagus sih…” kata Ibu Ela.

“Kesana naik mobil dong..?” tanya saya.
“Saya jalan kaki” kata Ibu Ela
“Kok jalan kaki…?” tanya saya penasaran.

Penghasilan Ibu Ela sekitar Rp 7.000 sehari. Saya mau tahu alokasi uang itu untuk kehidupan sehari-harinya. Bingung juga bagaimana bisa hidup dengan uang Rp 7.000 sehari.

“Iya.. mas, saya jalan kaki dari sini. Ada jalan pintas, walaupun harus lewat sawah dan jalan kecil. Kalau saya jalan kaki, khan saya punya sisa uang Rp 2.000 yang harusnya buat ongkos, nah itu saya sisihkan untuk sedekah ke ustadz…” Ibu Ela menjelaskan.
“Maksudnya, uang Rp 2.000 itu Ibu kasih ke pak Ustadz?” Saya melongo. Khan Ibu ngga punya uang, gumam saya dalam hati.
“Iya, yang Rp 2.000 saya kasih ke Pak Ustadz… buat sedekah.” Kata Ibu Ela, datar.
“Kenapa Bu, kok dikasihin?” saya masih bengong.
“Soalnya, kalau saya sedekahkan, uang Rp 2.000 itu udah pasti milik saya di akherat, dicatet sama Allah…. Kalau uang sisa yang saya miliki bisa aja rezeki orang lain, mungkin rezeki tukang beras, tukang gula, tukang minyak tanah….” Ibu Ela menjelaskan, kedengarannya jadi seperti pakar pengelolaan keuangan keluarga yang hebat.

Dzig! Saya seperti ditonjok Cris John. Telak!
Ada rambut yang serempak berdiri di tengkuk dan tangan saya. Saya Merinding!

Ibu Ela tidak tahu kalau dia berhadapan dengan saya, seorang sarjana ekonomi yang seumur-umur belum pernah menemukan teori pengelolaan keuangan seperti itu.

Jadi, Ibu Ela menyisihkan uangnya, Rp 2.000 dari Rp 7.000 sehari untuk disedekahkan kepada sebuah majlis karena berpikiran bahwa itulah yang akan menjadi haknya di akherat kelak?

‘Wawancara’ yang sebenarnya jadi-jadian itu pun segera berakhir. Saya pamit dan menyampaikan bahwa kalau sudah dimuat, saya akan menemui Ibu Ela kembali, mungkin minggu depan.

Saya sebenarnya on mission, mencari orang-orang seperti Ibu Ela yang cerita hidupnya bisa membuat ‘merinding’..Saya sudah menemukan kekuatan dibalik kesederhanaan. Keteguhan yang menghasilkan kesabaran. Ibu Ela terpilih untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa dan tak terduga.

Minggu depannya, saya datang kembali ke Ibu Ela, kali ini bersama dengan kru televisi dan seorang presenter kondang yang mengenakan tuxedo, topi tinggi, wajahnya dihiasai janggut palsu, mengenakan kaca mata hitam dan selalu membawa tongkat. Namanya Mr. EM (Easy Money)

Kru yang bersama saya adalah kru Uang Kaget, program di RCTI yang telah memilih Ibu Ela sebagai ‘bintang’ di salah satu episode yang menurut saya salah satu yang terbaik. Saya mengetahuinya, karena dibalik kacamata hitamnya, Mr. EM seringkali tidak kuasa menahan air mata yang membuat matanya berkaca-kaca. Tidak terlihat di televisi, tapi saya merasakannya.

Ibu Ela mendapatkan ganti dari Rp 2.000 yang disedekahkannya dengan Rp 10 juta dari uang kaget. Entah berapa yang Allah akan ganti di akherat kelak.

Ibu Ela membeli beras, kulkas, makanan, dll untuk melengkapi rumahnya. Entah apa yang dibelikan Allah untuk rumah indahnya di akherat kelak...

Sudahkah kita menyisihkan ongkos ke akherat?

Sahabat mari kita coba sejenak tengok Al-Qur’an,
" Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. " (QS. 2:261)

Bayangkan dibalas dengan 700 kali lipat !!

jadi kalau 100 - 10 = 90
10 dilipat gandakan menjadi: 10 x 700 = 7000
TOTAL AKHIR = 7000 + 90 = 7090

Ada yang bertanya, jadi kalau saya sedekahkan Rp10.000, maka saya akan mendapatkan kembali Rp.700.000 ?? Semudah itu? Ya ! Silahkan buktikan wahai sahabatku.

Yang perlu diingat adalah : IKHLAS.. IKHLAS.. dan IKHLAS..
Tetapi Kadang matematika Tuhan ini tidak kasat mata. Tidak melulu uang diganti dengan uang. Tetapi Allah Yang Maha Suci dengan Kesempurnaan-Nya juga Maha Mengetahui mana yang terbaik dan apa yang sedang dibutuhkan oleh hamba-Nya saat itu. Bisa jadi Diganti dengan keselamatan dijalan, bertahun-tahun gak pernah sakit, mudah cari kerja, kemudahan berusaha, kebahagiaan keluarga, anak yang berbakti, ditemukan jodohnya dan lain sebagainya.

Semoga kita senantiasa IKHLAS.. IKHLAS.. dan IKHLAS



dari  http://www.rumah-yatim-indonesia.org 

Sunday, November 15, 2009

jodoh...oh, jodoh...

Baru aja pulang dari nikahannya Putri &Yoop di Manggala wanabhakti. Alhamdulillah si Putri akhirnya udah ketemu sama jodohnya...ikutan seneeeeeeng banget ! :)
Jadi, ceritanya mereka ini adalah hasil dari 'per-comblangan' tantenya Putri. Bulan Maret yang lalu, si Putri dikenalin sama tante Esty ke temennya. Beda umurnya juga lumayan jauh...10 tahun. Berarti, sewaktu mas Yoop berumur 10 tahun, pas sekolah di kelas 5 SD, Tuhan lalu menciptakan jodohnya. Awalnya sih jodoh-jodohan mereka cuma bercanda-canda aja, tapi kalo Allah udah "ikutan bekerja", ya jadilah ! Dan akhirnya, setelah 9 bulan pacaran, hari ini mereka telah menyempurnakan setengah agama mereka, dan mengikuti sunnah Rasulullah saw. Saya, sebagai kakak Putri dan sebagai penikmat kisah petualangan Putri mencari cinta, ikutan bahagia banget...Alhamdulillaah :)

Minggu lalu, sahabat SMA juga ada yang baru nikah. Yang itu lebih lucu lagi ceritanya. Devi dan Rangga temenan waktu mereka masih sama-sama sekolah di SMP. Tapi baru 'ngeh' kalo mereka saling cinta 12 bulan yang lalu. 6 bulan pacaran, dan sisa 6 bulan untuk menyiapkan pernikahan mereka. Kemarin malam, resepsi pernikahan mereka udah kayak acara bagi raport sekolah. Teman dan sahabat Devi & Rangga waktu sekolah di SMP dulu datang bersama orang tua mereka masing-masing. Secara, mereka semua kenal dan bersahabat akrab dari kecil. Yang besanan juga pasti bernostalgia waktu mereka ketemuan di rapat orang tua murid jaman dulu, deh...hehehe.. :)



Huuumm...jodoh...
Benar-benar sebuah misteri. Tak ada satu orang pun yang dapat menebaknya dengan pasti. Hanya Allah swt sajalah yang mengetahuinya. Karena semua mahluk memang telah diciptakan-NYA berpasang-pasangan. Dan hanya DIA-lah yang paling tahu pasti siapa jodoh kita.
Bisa saja jodoh kita adalah orang yang dekat dengan kita, boleh jadi ternyata jodoh kita adalah orang yang setiap hari kita temui. Atau ternyata dia bukanlah orang asing buat kita. Siapa tau ? :)
Yaah...memang, untuk ketemu jodoh memang harus diusahakan. Walaupun jodoh kita ternyata tetangga sebelah rumah, tapi kalau tidak pernah mau kenalan, ya mana mungkin pernah bertemu ?!...


Bagi para pejuang cinta, yang senasib sama saya. Yang masih berpetualang mencari cinta dan jodoh sejatinya di luar sana. Jangan pernah menyerah yaaa...!
Allah telah menetapkan rezeki, jodoh dan maut kita dengan pasti sebelum kita dilahirkan. Jadi, jangan berputus asa untuk menjemput jodoh kita. Karena mungkin kita hanya butuh selangkah lagi untuk bisa bertemu dengan Si Dia, Sang Pujaan Hati yang selama ini kita rindukan...*insyaallah :)*

Bersabarlah dan jangan pernah putus berdoa dan memohon pada-NYA, kepada DIA Yang Maha Menetapkan setiap perkara. Jangan lupa juga untuk terus memperbaiki diri agar lebih pantas untuk dicintai oleh-NYA.
Bisa jadi, jodoh kita masih 'disimpan' sama Allah sampai kita siap, sampai kita benar-benar layak untuk mendapatkannya. "Masa menunggu" ini memang sengaja Allah berikan untuk kita, agar bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki diri. Karena, jodoh kita adalah cerminan dari diri kita. Kalau mau bersuamikan pria yang soleh, maka kita juga harus memantaskan diri untuk bisa berdampingan dengan seorang laki-laki yang soleh. Kalau mendambakan seorang istri yang solehah, maka kita juga harus pantas untuk dapat mendampingi seorang bidadari surga. Saya selalu berpedoman pada 'janji' di surat cinta-NYA, Q.S An-Nuur ayat ke-26,
"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)...." 

Allah swt tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-NYA yang ingin berbuat baik dan selalu berusaha untuk mendekat pada cinta-NYA.
Bukankah dengan mudah Allah swt menjadikan malam menjadi siang, dan siang berganti dengan malam ? Maka sungguh amat mudah bagi-NYA bila hanya memberi kita seorang jodoh.


Ingat kawan, Allah tidak pernah tidur...dan DIA tidak pernah ingkar janji...

Tuesday, November 03, 2009

..surat untuk my (future) husband..

assalaamu'alaikum wr, wb..

(calon) Imam ku, apa kabarnya kamu di sana ??...
semoga kau dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan ALLAH swt..
tak putus-putusnya aku berdoa untukmu, agar setiap langkahmu selalu penuh berkah dan ridho dari NYA..
jangan putus asa, dan tetep sabar yaa...sama seperti aku di sini, yang nggak pernah bosen-bosennya berdoa dan berharap agar kita cepat dipertemukan...

Sayangku, alhamdulillah...sekarang aku belajar memahami maksud ALLAH yang menunda perjumpaan kita...biar aku bisa maksimal latihan sabar dan ikhlas nya...hehehe..
karena aku percaya buah yang dipanen, dengan waktu menunggu yang cukup lama, (insyaallah) akan lebih manis rasanya...akan lebih berharga dan bernilai...semoga :)

tak sabar rasanya menjadi teman hidupmu...yang menemani kamu menjalani petualangan hidup ini...nemenin kamu di saat suka maupun duka...ngurusin kamu kalo lagi sakit...buat masakan special untuk suamiku...nemenin kamu dan mensupport kamu dalam segala hal untuk menjadi yang terbaik...tertawa bersamamu, ataupun menangis bersama saling berpelukan...

dan yang paling kurindukan adalah bersamamu dalam langkahku untuk berjalan di jalan NYA...menemaniku agar istiqomah meraih cinta dan ridho ALLAH swt...
rinduuuu sekali hati ini ingin solat berjamaah denganmu di sepertiga malam-malam yang sunyi untuk memohon cinta NYA, cinta dari Sang Pemilik Hati ini...punya teman berlomba-lomba dalam kebaikan....saling mengingatkan untuk menjadi hamba yang pantas berada di Surga NYA kelak...saling membahu untuk menjadi kawan sejati di dunia dan akherat...


(calon) Suamiku, semoga langkah kita diringankan oleh NYA untuk segera bertemu dan berkumpul...agar kita dapat melahirkan anak-anak yang soleh dan soleha...yang akan kita didik mereka tentang kebenaran, kita bekalkan mereka dengan akhlak dan aqidah yang kuat...sebagai modal mereka untuk menjadi pemimpin umat...semoga mereka menjadi ana-anak yang bermanfaat untuk agama ALLAH, meneruskan perjuangan Rasulullah saw dan sebagai aset investasi kita di akherat kelak...


untuk mengisi 'waktu luang', sambil menunggu engkau hadir di hidupku, sekarang aku lagi sibuk nih meng-up grade diri.....agar lebih pantas untuk kau cintai....hehehe...kan untuk menjadi 'penebus' waktu menunggu yang begitu lama...semoga aku bisa menjadi hadiah terindah untukmu :D

"yaa ALLAH, jika rizki (jodoh)-ku masih ada di atas langit, maka tolong turunkanlah... jika ia masih di bawah tanah, maka tolong keluarkanlah... jika ia masih sulit, tolong mudahkanlah... jika ia masih jauh, maka dekatkanlah... laa hawla wa laa quwata illa billaah"


semoga ALLAH akan mempermudah semuanya ya...insyaallah, aammiiiin :D


wassalaamu'alaikum wr, wb





dari yang menantikan kehadiranmu,

-Your (Future) Wife-